AIR MATA IBU
http://catatandiahilang.blogspot.com/2013/04/air-mata-ibu.html

Jika kita bertanya kepada bocah cilik siapa orang pertama yang paling di cintainya.....?,pasti semua anak kecil menjawab "Mama" itu kata yang paling sering terdengar oleh telinga kita. Jawaban itu adalah tulus yang keluar dari bibir seorang bocah. Tapi apakah jawaban itu mampu bertahan didalam hati sanubarinya hingga kelak ia dewasa...?,siapa yang bisa menjamin jawaban itu akan kekal ada didalam setiap hati seorang anak.
Mungkin pelukan hangat dari bunda masih sangat kita rasakan,ciuman sayang dari beliau masih selalu membekas dipipi dan hati kita. Tapi bisakah kita ingat...berapakali kita sering melukai hati bunda kita atau berapakali kita tahu bunda kita meneteskan air matanya karna ucapan kasar kita. Setiap bunda akan menutupi dalam-dalam rasa duka itu didepan anaknya karna cintanya kepada seorang anak melebihi cintanya pada perasaannya sendiri.....
Ada sebuah kisah nyata yang benar-benar amat memilukan hati....
Ada seorang bunda yang begitu amat mencintai anaknya.....,ia selalu bertutur lembut kepada si anak dan berusaha untuk selalu membahagiakan seorang putrinya itu. Ia berusaha sekuat tenaga bekerja untuk mensejahterakan kehidupan keluarganya terutama agar bisa menjamin anaknya hidup dengan bergelimpahan kasih sayang secara materil dan non matiril....
Anak ini tumbuh sempurna,segala yang ia inginkan pasti terpenuhi. Sang bunda berharap semoga putrinya bisa memberikan kasih sayang yang sama seperti yang ia berikan kepadanya.
Tetapi sayang......apa yang ia harapkan jauh dari kenyataan. Setelah si putri tercintannya menikah tak jarang ia membuat sang ibu kecewa dengan kelakuannya.Apalagi karna ia sudah tak lagi bekerja dan sering mengalami kekurangan ekonomi. Sedangkan si putri menjadi anak yang sangat pemboros dan gemar berbelanja dengan teman-temannya.
Pernah suatu hari... ia pulang shopping dengan teman-temannya dan membawa begitu banyak buah-buahan. Si ibu yang sudah tidak lagi bekerja menantinya dirumah karna putrinya memang masih tinggal dirumahnya. Lalu sang anak ini membongkar belanjaannya didepan ibu dan adik sematawayangnya.
"Lihat bu....,ini tas branded harganya sangat mahal.....belum lagi sepatunya made in Italy. Buah-buahan ini juga harganya amat mahal karna buah ini buah impor. Aku mengeluarkan ini semua habis 25juta tapi biarlah yang penting aku puas..." ucapnya dengan santai. Sementara sang adik berharap kakaknya itu mau memberikan satu saja buah impor yang baru ia belinya itu. Tapi sayang sang kakak tidak tahu kalau adiknya berharap sekali mendapatkan buah impor itu. Semua barang yang telah ia pamerkan kepada adik dan ibunya itu dimasukkan kembali kedalam tas belanjaannya dan dibawa masuk kedalam kamar.
Si ibu tersenyum membelai rambut sang adik,ia tahu betapa kecewa adiknya terhadap sikap kakaknya itu. Batinnya terasa teriris melihat putrinya yang tidak peduli dengan keadaan ibu dan adiknya. Putrinya benar-benar menutup mata walau ia tahu keadaan ekonomi ibunya sudah benar2 parah karna kerap menjual perhiasannya hanya untuk menutupi makan sehari-harinya. Walau putrinya itu masih tinggal dengan dirinya tapi ia tak pernah sepeserpun memberikan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Pernah suatu hari si ibu benar-benar sudah tidak mempunyai uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari,dimeja makan hanya ada nasi dan seceret air putih saja. Melihat keadaan meja makan yang seperti itu sang putri yang dicintainya langsung buru-buru pergi ke restauran dan makan dengan lahapnya disana tanpa membawa sebungkus laukpun untuk diberikan kepada adik dan ibunya. Sementara si adik bertanya kepada kakaknya itu. "Kak..kakak darimana?"tanya sang adik.
"Aku dari restauran padang makan disana,karna kulihat ibu tidak masak hari ini."jawabnya dengan santai
"Apa kakak membelikan lauk-pauk juga untuk makan kami?"tanya si adik berharap
"Tidak...aku tidak membelikan apapun untuk kalian. Asal kamu tahu ya dik....hari ini ibu tidak memasak karna ia tidak ingin aku ikut makan bersama kalian, Ia jengkel karna aku tidak pernah membantu memasak. Mangkanya mulai hari ini biarlah aku makan diluar saja,jadi ibu enggak cape-cape memberikan makanan untuk aku dan suamiku."tutur sang kakak yang malah memfitnah ibunya.
"Anak ku....hari ini aku tidak masak bukan karena aku tak mau kalian ikut makan bersama kami. Tapi ibu memang tidak punya uang lagi untuk belanja lauk-pauk. Sedangkan beras didapur saja sudah mulai menipis." jawab ibunya dengan nada yang begitu sedih...
"Ah...itu hanya alasan ibu saja. aku kemarin lihat ibu baru saja menjual perhiasan,lalu ibu pergunakan untuk apa uangnya?" kata si anak masih tak percaya.
"Ibu menjual satu-satunya sisa cincin perhiasan yang ibu miliki itu kemarin untuk membayar tunggakan listrik 2bln yang belum terbayar. Uang itu hanya cukup untuk membayar tunggakan listrik saja tidak ada sisanya..."jawab si ibu menjelaskan.
"Ah...alasan saja..."bentak putrinya yg tetap tidak percaya oleh ibunya.
"Kak...kenapa kakak begitu tega melihat keadaan kami seperti ini dan mengapa kakak tidak pernah percaya dengan semua kata-kata ibu!"si adikpun merasa jengkel dengan kelakuan kakaknya yang sudah kelewat batas.
"Kamu itu sama saja seperti ibu,tiap hari kerjanya mengeluh....mengeluh saja,kalau kamu memang peduli dengan ibu berusaha dong cari duit untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian. Aku disini tidak sekedar menumpang saja. Aku sudah banyak membantu kalian terutama kamu....berapa uang yang sudah kuberikan kepadamu untuk kebutuhan sekolahmu. Kalau aku yang harus menanggung uang makan kalian juga aku keberatan....aku tidak bisa...."sang kakak malah balik menyemprot adiknya.
Kata-kata kasar seperti itu semakin sering terdengar dari mulut putrinya,ia semakin sering mengungkit-ungkit semua pemberian yang pernah ia berikan untuk ibu dan adiknya.Jika dirinya tersinggung sedikit,tak jarang iapun sering mengambil barang yang telah ia berikan kepada ibu dan adiknya.
Sementara air mata sang ibu selalu membasahi pipinya setiap waktu. Ia benar-benar tak menyangka putrinya begitu tega terhadap ibu dan adiknya. Ia tak pernah menyangka kasih sayang yang ia berikan dari dulu dibalas dengan cacian dan makian disepanjang hari tuanya. Sang ibu hanya berharap suatu saat nanti putrinya akan menyadari keslahan yang selama ini ia perbuat.
Mungkin karna merasa terganggu atau tidak mau diganggu kehidupannya oleh sang ibu dan adiknya,ia memutuskan untuk mencari rumah kontrakan sendiri. Sang putri meninggalkan ibu dan adiknya dalam keadaan yang sudah benar-benar kekurangan. Ia merasa keberatan jika selalu diminta bantuan oleh ibunya.
Ia berharap akan bebas dari tanggung jawab sebagai kakak bila ia keluar dari rumah ibunya. Ia bisa hidup sesuka hatinya tanpa ada lagi yang ikut campur apalagi mengurangi jatah uang bulanan yang diberikan oleh suaminya. Namun keadaan berkata lain....setahun sudah ia berpisah dari ibu dan adiknya banyak sekali masalah yang ia hadapi. Sang suami dikeluarkan dari pekerjaanya karena ketahuan memakai uang perusahaan,sementara ia sendiri dijauhi dari pergaulan teman-temannya karena sikap dan perilakunya yang semakin lama semakin sombong. Iapun semakin terbelit hutang dan suaminya tak pernah pulang sudah hampir 6bln lamanya, Iapun semakin sulit dan tertekan menghadapi kesulitan hidup.
Dengan berat hati si putri yang sombong itu datang menemui ibu dan adiknya. Tapi sang ibu tidak mau menemui anak durhakanya itu,ia mengunci diri dan tidak mau lagi bertemu dengan putrinya. Sementara sang adik berusaha membujuk ibunya untuk mau menerima kakaknya kembali kerumahnya dan mau memaafkan segala kesalahan yang pernah ia perbuat.
Mendengarkan kata-kata bijak dari anak bungsunya akhirnya hati sang ibu luluh. Air mata sang ibu menetes terharu bercampur iba melihat keadaan putrinya yang begitu menghawatirkan,iapun memeluk sang putri tercintanya itu dan membukakan pintu hatinya lagi untuk memaafkan kesalahan sang putri.....
Tetapi sayang......apa yang ia harapkan jauh dari kenyataan. Setelah si putri tercintannya menikah tak jarang ia membuat sang ibu kecewa dengan kelakuannya.Apalagi karna ia sudah tak lagi bekerja dan sering mengalami kekurangan ekonomi. Sedangkan si putri menjadi anak yang sangat pemboros dan gemar berbelanja dengan teman-temannya.
Pernah suatu hari... ia pulang shopping dengan teman-temannya dan membawa begitu banyak buah-buahan. Si ibu yang sudah tidak lagi bekerja menantinya dirumah karna putrinya memang masih tinggal dirumahnya. Lalu sang anak ini membongkar belanjaannya didepan ibu dan adik sematawayangnya.
"Lihat bu....,ini tas branded harganya sangat mahal.....belum lagi sepatunya made in Italy. Buah-buahan ini juga harganya amat mahal karna buah ini buah impor. Aku mengeluarkan ini semua habis 25juta tapi biarlah yang penting aku puas..." ucapnya dengan santai. Sementara sang adik berharap kakaknya itu mau memberikan satu saja buah impor yang baru ia belinya itu. Tapi sayang sang kakak tidak tahu kalau adiknya berharap sekali mendapatkan buah impor itu. Semua barang yang telah ia pamerkan kepada adik dan ibunya itu dimasukkan kembali kedalam tas belanjaannya dan dibawa masuk kedalam kamar.
Si ibu tersenyum membelai rambut sang adik,ia tahu betapa kecewa adiknya terhadap sikap kakaknya itu. Batinnya terasa teriris melihat putrinya yang tidak peduli dengan keadaan ibu dan adiknya. Putrinya benar-benar menutup mata walau ia tahu keadaan ekonomi ibunya sudah benar2 parah karna kerap menjual perhiasannya hanya untuk menutupi makan sehari-harinya. Walau putrinya itu masih tinggal dengan dirinya tapi ia tak pernah sepeserpun memberikan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Pernah suatu hari si ibu benar-benar sudah tidak mempunyai uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari,dimeja makan hanya ada nasi dan seceret air putih saja. Melihat keadaan meja makan yang seperti itu sang putri yang dicintainya langsung buru-buru pergi ke restauran dan makan dengan lahapnya disana tanpa membawa sebungkus laukpun untuk diberikan kepada adik dan ibunya. Sementara si adik bertanya kepada kakaknya itu. "Kak..kakak darimana?"tanya sang adik.
"Aku dari restauran padang makan disana,karna kulihat ibu tidak masak hari ini."jawabnya dengan santai
"Apa kakak membelikan lauk-pauk juga untuk makan kami?"tanya si adik berharap
"Tidak...aku tidak membelikan apapun untuk kalian. Asal kamu tahu ya dik....hari ini ibu tidak memasak karna ia tidak ingin aku ikut makan bersama kalian, Ia jengkel karna aku tidak pernah membantu memasak. Mangkanya mulai hari ini biarlah aku makan diluar saja,jadi ibu enggak cape-cape memberikan makanan untuk aku dan suamiku."tutur sang kakak yang malah memfitnah ibunya.
"Anak ku....hari ini aku tidak masak bukan karena aku tak mau kalian ikut makan bersama kami. Tapi ibu memang tidak punya uang lagi untuk belanja lauk-pauk. Sedangkan beras didapur saja sudah mulai menipis." jawab ibunya dengan nada yang begitu sedih...
"Ah...itu hanya alasan ibu saja. aku kemarin lihat ibu baru saja menjual perhiasan,lalu ibu pergunakan untuk apa uangnya?" kata si anak masih tak percaya.
"Ibu menjual satu-satunya sisa cincin perhiasan yang ibu miliki itu kemarin untuk membayar tunggakan listrik 2bln yang belum terbayar. Uang itu hanya cukup untuk membayar tunggakan listrik saja tidak ada sisanya..."jawab si ibu menjelaskan.
"Ah...alasan saja..."bentak putrinya yg tetap tidak percaya oleh ibunya.
"Kak...kenapa kakak begitu tega melihat keadaan kami seperti ini dan mengapa kakak tidak pernah percaya dengan semua kata-kata ibu!"si adikpun merasa jengkel dengan kelakuan kakaknya yang sudah kelewat batas.
"Kamu itu sama saja seperti ibu,tiap hari kerjanya mengeluh....mengeluh saja,kalau kamu memang peduli dengan ibu berusaha dong cari duit untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian. Aku disini tidak sekedar menumpang saja. Aku sudah banyak membantu kalian terutama kamu....berapa uang yang sudah kuberikan kepadamu untuk kebutuhan sekolahmu. Kalau aku yang harus menanggung uang makan kalian juga aku keberatan....aku tidak bisa...."sang kakak malah balik menyemprot adiknya.
Kata-kata kasar seperti itu semakin sering terdengar dari mulut putrinya,ia semakin sering mengungkit-ungkit semua pemberian yang pernah ia berikan untuk ibu dan adiknya.Jika dirinya tersinggung sedikit,tak jarang iapun sering mengambil barang yang telah ia berikan kepada ibu dan adiknya.
Sementara air mata sang ibu selalu membasahi pipinya setiap waktu. Ia benar-benar tak menyangka putrinya begitu tega terhadap ibu dan adiknya. Ia tak pernah menyangka kasih sayang yang ia berikan dari dulu dibalas dengan cacian dan makian disepanjang hari tuanya. Sang ibu hanya berharap suatu saat nanti putrinya akan menyadari keslahan yang selama ini ia perbuat.
Mungkin karna merasa terganggu atau tidak mau diganggu kehidupannya oleh sang ibu dan adiknya,ia memutuskan untuk mencari rumah kontrakan sendiri. Sang putri meninggalkan ibu dan adiknya dalam keadaan yang sudah benar-benar kekurangan. Ia merasa keberatan jika selalu diminta bantuan oleh ibunya.
Ia berharap akan bebas dari tanggung jawab sebagai kakak bila ia keluar dari rumah ibunya. Ia bisa hidup sesuka hatinya tanpa ada lagi yang ikut campur apalagi mengurangi jatah uang bulanan yang diberikan oleh suaminya. Namun keadaan berkata lain....setahun sudah ia berpisah dari ibu dan adiknya banyak sekali masalah yang ia hadapi. Sang suami dikeluarkan dari pekerjaanya karena ketahuan memakai uang perusahaan,sementara ia sendiri dijauhi dari pergaulan teman-temannya karena sikap dan perilakunya yang semakin lama semakin sombong. Iapun semakin terbelit hutang dan suaminya tak pernah pulang sudah hampir 6bln lamanya, Iapun semakin sulit dan tertekan menghadapi kesulitan hidup.
Dengan berat hati si putri yang sombong itu datang menemui ibu dan adiknya. Tapi sang ibu tidak mau menemui anak durhakanya itu,ia mengunci diri dan tidak mau lagi bertemu dengan putrinya. Sementara sang adik berusaha membujuk ibunya untuk mau menerima kakaknya kembali kerumahnya dan mau memaafkan segala kesalahan yang pernah ia perbuat.
Mendengarkan kata-kata bijak dari anak bungsunya akhirnya hati sang ibu luluh. Air mata sang ibu menetes terharu bercampur iba melihat keadaan putrinya yang begitu menghawatirkan,iapun memeluk sang putri tercintanya itu dan membukakan pintu hatinya lagi untuk memaafkan kesalahan sang putri.....
***
