Kekejaman GAM di Daerah Perjuangannya Dua Wanita Dikubur Hidup-hidup
http://catatandiahilang.blogspot.com/2013/09/kekejaman-gam-di-daerah-perjuangannya.html
Jika diceritakan
semua kekejian GAM -- yang baru kali ini terungkap --
bakal berjilid-jilid. Buktinya, saat ini sebuah buku sudah
diluncurkan. Judulnya ''Menguak Tragedi Menggamat, Sebuah
Kesaksian Sejarah, Kekejaman dan Kekerasan GAM''. Isinya
merupakan aneka ragam kekejian yang dilakukan GAM. Buku
itu ditulis putra Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono
yaitu Agus Harimurti Yudhoyono. Agus kini berpangkat
letnan dua dan sedang bertugas di Aceh.
TERSEBUTLAH sebuah kisah di Kecamatan Menggamat, Aceh Selatan, Tapak Tuan. Kecamatan kecil, terisolasi, dikelilingi hutan rimba seluas 13 ribu hektar. Tujuh ribu lainnya didiami lembah, bukit-bukit, sawah, kebun, dan sedikit pemukiman penduduk. Di sinilah, GAM beranak-pinak. Jauh dari pantauan pasukan TNI.
GAM lahir dan besar dari seorang guru ngaji di Desa Le Mirah dan Payah Ateuh, di Menggamat. Mereka mulai menebar bibitnya pada 1992. Melalui pengajian, surau-surau, GAM merekrut anggota. Tengku Hanafi, Tengku Mustafa dan Tengku Bachtiar menjadi pelopornya. Belum besar, mereka diberangus TNI. Tidak satu pun dari mereka dibunuh. Mereka dibina menjadi petani. Namun, tiga tahun kemudian, mereka kembali bergerak dan dimulailah kekejian itu.
Setelah merasa besar, masuk ke LSM, dan dipersenjatai, pada Agustus 1999, para petinggi GAM memberi ultimatum kepada seluruh rakyat. Warga diharuskan mengikuti perintah GAM, tidak mengibarkan Merah Putih, dan kepala desa segera menyerahkan stempel, tidak memakai seragam dinas, dan tidak berkunjung ke kantor camat. Larangan ini terbukti ampuh, kecuali beberapa warga dan kepala desa.
Tiga di antaranya yang menolak adalah Kepala Desa Saiful bin Man Sihat, Sarong Adam, dan Saibun bin Kiran. Mereka tetap memerintahkan warganya mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1999. Akibatnya pun fatal. Ketiganya diculik dan disiksa, lantas dibunuh. Mayatnya dibuang di pinggir jalan.
Sejak itu, GAM mulai melancarkan teror, meminta pajak, dan memeras pedagang dan pengusaha. Jika tidak tunduk, nyawa taruhannya. Atau minimal dikurung di kawasan Blok Seumere, tidak diberi makan lima hari lima malam. Kekejaman terus dilakukan kepada warga desa.
Tibalah saatnya melawan. Saat itu, lima Juni 2001. Sejumlah warga merancang perlawanan terhadap GAM. Tiga tokoh dari tiga desa bertemu untuk merancang ''pemberontakan''. Tengku M Daud dari Simpang Tiga, Tengku Hasan dari Desa Alue Keujruen, Tengku Muzakkir dari Desa Gampong Padang. Mereka dibantu dari sejumlah desa lainnya.
Selepas Isya, gempuran warga berhasil melumpuhkan pimpinan GAM, beberapa senjata rakitan disita, sorak-sorai gembira. Cuma sayang, tak lama keceriaan itu, bantuan GAM dari pucuk gunung datang setelah salah seorang berhasil mengontak mereka melalui radio. Kalashnikov menjerit-jerit memuntahkan peluru. Karena tak bersenjata, warga kocar-kacir melarikan diri. Mereka lari ke rumah, ke hutan, dan ke bukit. Sial, tiga warga tertangkap GAM, yaitu Idris, Ali, dan seorang lagi tidak diketahui namanya.
Mereka digiring ke Gedung Aksi Bumi, sebuah gedung kesenian di Menggamat. Balas dendam pun dimulai. Ketiganya digantung. Kaki di atas, kepala di bawah, tangannya dirantai. Hingga pagi, 6 Juni 2001, warga dikumpulkan di gedung ini. Dan, tiga tahanan diturunkan, duduk menghadap warga. GAM mulai beraksi. Kulit muka ketiga tahanan GAM itu dilepas, seiris-seiris. Lalu kulit kepala dikelupas, satu per satu. Kemudian, badan dipukuli dengan kayu. Darah mengucur, bibir menjerit. ''Pengkhianat bangsa Aceh, umpat neraka,'' begitu makian personel GAM.
Rakyat tidak tahan melihat kebiadaban ini. Tetapi, mereka tidak boleh pergi. Tentara GAM menjaga dengan senapan Kalashnikov-AK-47. Terpaksa, ada yang menangis. Sebagian hanya bisa menggigil, menahan kepedihan yang diderita kawannya. Menjelang sore, setelah diancam dan didoktrin, warga bubar dan ketiga tawanan yang terkulai dibawa ke posko GAM. Mereka dihabisi tanpa diketahui di mana kuburnya.
Sweeping terus dilakukan. GAM menangkap mangsa lagi. Rabbal Amin bin Adamsyah, warga Desa Koto, Bahagia bin Aji Tumpang -- warga Desa Kmpung Padang -- Farich bin Rajuli dan Yendi bin Mukhidin dari Desa Mersak. Keempatnya dibawa ke kerangkeng. Tangan diikat dan dibiarkan tanpa baju. Selama sepekan, lima hari, lima malam, mereka tak diberi makan. Malam hari, mereka tak diberi selimut. Nyamuk memangsa darah mereka dan dingin menyengat tulang-belulang. Setelah 70 hari, keempatnya dilepas, tetapi dengan tebusan. Seorang Rp 15 juta. Jika tak mampu boleh ditukar dengan bahan pangan.
Esoknya, balatentara GAM menangkapi warga kembali. Mereka dituduh tak mendukung GAM dan berkhianat. Tak kurang 96 warga dimasukkan kerangkeng -- terbuat dari kayu. Setelah disiksa, dikuliti, digebuki, mereka didoktrin lantas dilepaskan-setelah ditebus keluarganya, per kepala Rp 30 juta. Dari jumlah tawanan itu, baru kembali 36, sisa 63 belum jelas rimbanya. Ada dugaan dibunuh. Empat warga, Etot bin Makam, Mijan bin Sofyan, Marjan bin Safrudin dan Ian, adalah buktinya.
Hidup-hidup
Masih di Menggamat. Alkisah, datanglah dua gadis (usia 20-an tahun) dari Kecamatan Bakongan ke Menggamat. Keduanya ingin menemui ayahnya, yang lama tak pulang. Di tengah jalan, keduanya dicegat prajurit GAM. Dua-duanya dicurigai sebagai cuak (mata-mata TNI/Polri). Setelah dibawa ke markas, di rumah Kapolres GAM, keduanya tak dibunuh.
Jangan senang dulu. Kedua cewek ini rupanya dipakai alat pemuas nafsu. Mereka disekap empat bulan, diberi makan dan minum, lalu malamnya disuruh melayani birahi para tentara GAM.
Saat menjelang Ultah GAM, 4 Desember 2001, beredarlah kabar, dua gadis itu positif hamil. Informasi ini dituturkan Adi Afrizal bin Syahbuddin dan Sufryadi bin Awaluddin. Keduanya sering keluar masuk rumah Agen -- Kapolres GAM itu -- untuk urusan logistik. Rupanya, Agen mendengar bisik-bisik warga. Untuk menutupi malu, dua gadis itu dibawa ke kaki Gunung Tukang Batu. Keduanya dikubur hidup-hidup di sana. Warga mengetahuinya setelah mengetahui sisa pakaian serta adanya kuburan baru di situ.
Sebulan kemudian, Adi Afrizal ditemukan tergantung tewas di rumah Agen. Sementara si Sufryadi bin Awaludin, yang juga menjadi target pembunuhan berhasil lolos. Dia melarikan diri dan mengumbar informasi setelah diberi jaminan keamanan oleh polisi dan TNI.
Yang paling membuat bulu kuduk berdiri, pada medio 2001, di Desa Krueng Kluet, masih kawasan Menggamat. Seorang kepala desa bernama Meisir. Dia tewas dalam keadaan badan terbelah menjadi dua, mulai kepala hingga kaki. Badannya dibelah dengan chainshaw atau gergaji mesin. Meisir disiksa sedemikian sadis setelah kedatangan TNI. Warga desa pimpinan Meisir dinilai GAM terlalu baik dan mendukung penuh aktivitas TNI. Setelah TNI pergi, GAM menculik Meisir dan membelahnya menjadi dua.
Sejatinya, masih banyak kisah lain di buku ini. Tetapi, beberapa contoh di atas, sudah cukup memberi bukti bahwa GAM berbuat kejam kepada rakyat. Dalam buku ini ditulis, GAM telah melakukan perbuatan yang dikategorikan pelanggaran HAM berat. ''Buku ini patut menjadi cermin bagi seluruh umat manusia, bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat yang dilakukan secara sistematis oleh GAM,'' kata Gubernur NAD Abdullah Puteh, dalam sambutannya yang tercetak di buku ini.
* Heru B. Arifin
TERSEBUTLAH sebuah kisah di Kecamatan Menggamat, Aceh Selatan, Tapak Tuan. Kecamatan kecil, terisolasi, dikelilingi hutan rimba seluas 13 ribu hektar. Tujuh ribu lainnya didiami lembah, bukit-bukit, sawah, kebun, dan sedikit pemukiman penduduk. Di sinilah, GAM beranak-pinak. Jauh dari pantauan pasukan TNI.
GAM lahir dan besar dari seorang guru ngaji di Desa Le Mirah dan Payah Ateuh, di Menggamat. Mereka mulai menebar bibitnya pada 1992. Melalui pengajian, surau-surau, GAM merekrut anggota. Tengku Hanafi, Tengku Mustafa dan Tengku Bachtiar menjadi pelopornya. Belum besar, mereka diberangus TNI. Tidak satu pun dari mereka dibunuh. Mereka dibina menjadi petani. Namun, tiga tahun kemudian, mereka kembali bergerak dan dimulailah kekejian itu.
Setelah merasa besar, masuk ke LSM, dan dipersenjatai, pada Agustus 1999, para petinggi GAM memberi ultimatum kepada seluruh rakyat. Warga diharuskan mengikuti perintah GAM, tidak mengibarkan Merah Putih, dan kepala desa segera menyerahkan stempel, tidak memakai seragam dinas, dan tidak berkunjung ke kantor camat. Larangan ini terbukti ampuh, kecuali beberapa warga dan kepala desa.
Tiga di antaranya yang menolak adalah Kepala Desa Saiful bin Man Sihat, Sarong Adam, dan Saibun bin Kiran. Mereka tetap memerintahkan warganya mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1999. Akibatnya pun fatal. Ketiganya diculik dan disiksa, lantas dibunuh. Mayatnya dibuang di pinggir jalan.
Sejak itu, GAM mulai melancarkan teror, meminta pajak, dan memeras pedagang dan pengusaha. Jika tidak tunduk, nyawa taruhannya. Atau minimal dikurung di kawasan Blok Seumere, tidak diberi makan lima hari lima malam. Kekejaman terus dilakukan kepada warga desa.
Tibalah saatnya melawan. Saat itu, lima Juni 2001. Sejumlah warga merancang perlawanan terhadap GAM. Tiga tokoh dari tiga desa bertemu untuk merancang ''pemberontakan''. Tengku M Daud dari Simpang Tiga, Tengku Hasan dari Desa Alue Keujruen, Tengku Muzakkir dari Desa Gampong Padang. Mereka dibantu dari sejumlah desa lainnya.
Selepas Isya, gempuran warga berhasil melumpuhkan pimpinan GAM, beberapa senjata rakitan disita, sorak-sorai gembira. Cuma sayang, tak lama keceriaan itu, bantuan GAM dari pucuk gunung datang setelah salah seorang berhasil mengontak mereka melalui radio. Kalashnikov menjerit-jerit memuntahkan peluru. Karena tak bersenjata, warga kocar-kacir melarikan diri. Mereka lari ke rumah, ke hutan, dan ke bukit. Sial, tiga warga tertangkap GAM, yaitu Idris, Ali, dan seorang lagi tidak diketahui namanya.
Mereka digiring ke Gedung Aksi Bumi, sebuah gedung kesenian di Menggamat. Balas dendam pun dimulai. Ketiganya digantung. Kaki di atas, kepala di bawah, tangannya dirantai. Hingga pagi, 6 Juni 2001, warga dikumpulkan di gedung ini. Dan, tiga tahanan diturunkan, duduk menghadap warga. GAM mulai beraksi. Kulit muka ketiga tahanan GAM itu dilepas, seiris-seiris. Lalu kulit kepala dikelupas, satu per satu. Kemudian, badan dipukuli dengan kayu. Darah mengucur, bibir menjerit. ''Pengkhianat bangsa Aceh, umpat neraka,'' begitu makian personel GAM.
Rakyat tidak tahan melihat kebiadaban ini. Tetapi, mereka tidak boleh pergi. Tentara GAM menjaga dengan senapan Kalashnikov-AK-47. Terpaksa, ada yang menangis. Sebagian hanya bisa menggigil, menahan kepedihan yang diderita kawannya. Menjelang sore, setelah diancam dan didoktrin, warga bubar dan ketiga tawanan yang terkulai dibawa ke posko GAM. Mereka dihabisi tanpa diketahui di mana kuburnya.
Sweeping terus dilakukan. GAM menangkap mangsa lagi. Rabbal Amin bin Adamsyah, warga Desa Koto, Bahagia bin Aji Tumpang -- warga Desa Kmpung Padang -- Farich bin Rajuli dan Yendi bin Mukhidin dari Desa Mersak. Keempatnya dibawa ke kerangkeng. Tangan diikat dan dibiarkan tanpa baju. Selama sepekan, lima hari, lima malam, mereka tak diberi makan. Malam hari, mereka tak diberi selimut. Nyamuk memangsa darah mereka dan dingin menyengat tulang-belulang. Setelah 70 hari, keempatnya dilepas, tetapi dengan tebusan. Seorang Rp 15 juta. Jika tak mampu boleh ditukar dengan bahan pangan.
Esoknya, balatentara GAM menangkapi warga kembali. Mereka dituduh tak mendukung GAM dan berkhianat. Tak kurang 96 warga dimasukkan kerangkeng -- terbuat dari kayu. Setelah disiksa, dikuliti, digebuki, mereka didoktrin lantas dilepaskan-setelah ditebus keluarganya, per kepala Rp 30 juta. Dari jumlah tawanan itu, baru kembali 36, sisa 63 belum jelas rimbanya. Ada dugaan dibunuh. Empat warga, Etot bin Makam, Mijan bin Sofyan, Marjan bin Safrudin dan Ian, adalah buktinya.
Hidup-hidup
Masih di Menggamat. Alkisah, datanglah dua gadis (usia 20-an tahun) dari Kecamatan Bakongan ke Menggamat. Keduanya ingin menemui ayahnya, yang lama tak pulang. Di tengah jalan, keduanya dicegat prajurit GAM. Dua-duanya dicurigai sebagai cuak (mata-mata TNI/Polri). Setelah dibawa ke markas, di rumah Kapolres GAM, keduanya tak dibunuh.
Jangan senang dulu. Kedua cewek ini rupanya dipakai alat pemuas nafsu. Mereka disekap empat bulan, diberi makan dan minum, lalu malamnya disuruh melayani birahi para tentara GAM.
Saat menjelang Ultah GAM, 4 Desember 2001, beredarlah kabar, dua gadis itu positif hamil. Informasi ini dituturkan Adi Afrizal bin Syahbuddin dan Sufryadi bin Awaluddin. Keduanya sering keluar masuk rumah Agen -- Kapolres GAM itu -- untuk urusan logistik. Rupanya, Agen mendengar bisik-bisik warga. Untuk menutupi malu, dua gadis itu dibawa ke kaki Gunung Tukang Batu. Keduanya dikubur hidup-hidup di sana. Warga mengetahuinya setelah mengetahui sisa pakaian serta adanya kuburan baru di situ.
Sebulan kemudian, Adi Afrizal ditemukan tergantung tewas di rumah Agen. Sementara si Sufryadi bin Awaludin, yang juga menjadi target pembunuhan berhasil lolos. Dia melarikan diri dan mengumbar informasi setelah diberi jaminan keamanan oleh polisi dan TNI.
Yang paling membuat bulu kuduk berdiri, pada medio 2001, di Desa Krueng Kluet, masih kawasan Menggamat. Seorang kepala desa bernama Meisir. Dia tewas dalam keadaan badan terbelah menjadi dua, mulai kepala hingga kaki. Badannya dibelah dengan chainshaw atau gergaji mesin. Meisir disiksa sedemikian sadis setelah kedatangan TNI. Warga desa pimpinan Meisir dinilai GAM terlalu baik dan mendukung penuh aktivitas TNI. Setelah TNI pergi, GAM menculik Meisir dan membelahnya menjadi dua.
Sejatinya, masih banyak kisah lain di buku ini. Tetapi, beberapa contoh di atas, sudah cukup memberi bukti bahwa GAM berbuat kejam kepada rakyat. Dalam buku ini ditulis, GAM telah melakukan perbuatan yang dikategorikan pelanggaran HAM berat. ''Buku ini patut menjadi cermin bagi seluruh umat manusia, bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat yang dilakukan secara sistematis oleh GAM,'' kata Gubernur NAD Abdullah Puteh, dalam sambutannya yang tercetak di buku ini.
* Heru B. Arifin
Ngeri yahh alhamdulillah skrg udah aman
BalasHapus